Program _Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupaan salah satu inisiatif mulia dari Presiden, dengan tujuan utama menjamin asupan gizi seluruh anak Indonesia. Gagasan ini lahir dari kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa agar tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Namun, meskipun tujuannya sangat baik, pelaksanaan program ini masih menimbulkan sejumlah persoalan, terutama terkait mekanisme dan sumber pembiayaannya. Salah satu isu utama adalah rencana penganggaran MBG yang mengambil alokasi dari dana pendidikan. Hal ini berpotensi mengganggu prioritas pembangunan di sektor pendidikan itu sendiri.
Idealnya, pembiayaan MBG seharusnya berasal dari dana efisiensi belanja negara atau sumber pendapatan lain yang tidak mengorbankan sektor strategis. Jika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belum mampu membiayai seluruh anak Indonesia, maka pelaksanaannya sebaiknya dilakukan secara bertahap. Misalnya, pemberian makanan bergizi dilakukan 2–3 kali dalam seminggu, bukan setiap hari.
Permasalahan lain muncul dari mekanisme pelaksanaan MBG yang melibatkan Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG). Meskipun dana dari pusat dapat dikirim ke desa dan membuka lapangan kerja, kenyataannya lapangan kerja tersebut tidak tersebar secara merata. Uang cenderung berputar di kalangan masyarakat yang sudah memiliki modal. Untuk mendirikan SPPG, dibutuhkan dana sekitar Rp1–1,6 miliar, yang tentu hanya dapat dijangkau oleh kalangan ekonomi atas di desa.
Belum lagi risiko lain seperti potensi keracunan makanan, kualitas bahan pangan, dan pengawasan distribusi yang tidak merata. Hal-hal ini menambah kompleksitas pelaksanaan MBG di lapangan.
Menurut pandangan saya, MBG tetap perlu dilaksanakan, namun dengan mekanisme yang lebih sederhana dan efisien. Salah satu alternatif yang lebih efektif adalah menyalurkan bantuan dalam bentuk uang langsung ke keluarga penerima. Dengan cara ini, negara tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membangun SPPG, operasional, dan distribusi.
Bantuan MBG dapat dikombinasikan dengan program bantuan beras yang sudah berjalan. Keluarga hanya perlu membeli lauk dan sayur sesuai menu bergizi yang telah ditentukan. Anak-anak diwajibkan membawa bekal ke sekolah setiap hari, dan guru bertugas mengontrol serta memastikan anak-anak benar-benar mengonsumsi makanan bergizi.
Masakan ibu adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus, dan sering kali menjadi makanan terbaik bagi anak-anak. Dengan pendekatan ini, MBG tidak hanya menjadi program gizi, tetapi juga memperkuat peran keluarga dalam pendidikan dan kesehatan anak. Bantuan langsung kepada keluarga akan lebih tepat sasaran, hemat anggaran, dan memperkuat ketahanan sosial di tingkat akar rumput.
----------
Pak Dhe Yoyok
Sekjen Majelisan Wong Ngisoran