Jumat, 28 November 2025

Guru-Guru Kita Mulai Kehilangan Sosok Guru




***

Yoyok ABP


Di era pendidikan modern ini, banyak guru yang mulai kehilangan esensi sejati dari peran mereka sebagai pendidik. Sibuk dengan tumpukan administrasi, laporan kegiatan, dan tuntutan birokrasi, guru sering kali lupa untuk mencari teladan dari sosok guru ideal yang pernah mereka idolakan. Padahal, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan mulia untuk membentuk generasi masa depan. Ketika guru terlalu fokus pada rutinitas administratif, mereka kehilangan semangat inspiratif yang seharusnya menjadi inti profesi ini.


Sederhananya, seorang guru harus selalu berpikir tentang bagaimana siswa-siswanya bisa menjadi orang sukses di masa depan. Bayangkan jika setiap guru bertanya pada diri sendiri: "Apa yang bisa saya lakukan agar murid saya mencapai potensi maksimal?" Ini bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, dan ketangguhan. Tanpa visi seperti ini, pendidikan hanya menjadi proses mekanis, bukan transformasi yang membangun bangsa.


Jika kita menoleh ke sejarah Indonesia, banyak tokoh hebat lahir dari bimbingan guru-guru visioner. Pangeran Diponegoro, sang pahlawan perlawanan melawan penjajah, dibentuk oleh pendidik yang menanamkan semangat keberanian dan keadilan. Demikian pula Jenderal Sudirman, yang meski sakit-sakitan, memimpin gerilya kemerdekaan berkat didikan guru yang mengajarkan disiplin dan patriotisme. Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Mohammad Yamin, Agus Salim, dan Cokroaminoto juga merupakan buah dari pendidikan yang holistik, di mana guru bukan hanya mengajar pelajaran, tapi juga nilai-nilai kehidupan.


Kini, pertanyaan mendasar muncul: Siapa guru-guru di balik kehebatan tokoh-tokoh tersebut? Mereka adalah pendidik yang tak kenal lelah, yang menjadi teladan melalui sikap, pengetahuan, dan dedikasi. Guru-guru era kemerdekaan itu sering kali mengorbankan diri demi murid, mengajarkan bukan hanya ilmu, tapi juga etika dan semangat juang. Sosok-sosok seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan atau guru-guru pesantren yang membimbing Agus Salim menunjukkan bahwa guru ideal adalah panutan yang hidupkan nilai-nilai luhur dalam diri siswa.


Oleh karena itu, guru masa kini harus mulai berpikir ulang: Siswa seperti apa yang ingin kita lahirkan? Jika harapannya adalah generasi sukses yang inovatif, toleran, dan berkontribusi bagi negara, maka kita pun harus meneladani guru-guru hebat dari masa lalu. Ini berarti mengurangi beban administratif yang berlebihan, lebih banyak interaksi langsung dengan siswa, dan terus belajar untuk menjadi inspirasi. Dengan begitu, kita bisa menciptakan lingkungan belajar yang membangkitkan potensi siswa, seperti yang dilakukan para pendidik legendaris.


Akhirnya, perubahan ini dimulai dari refleksi diri setiap guru. Dengan meneladani sosok guru idola, kita tidak hanya menyelamatkan profesi ini dari kehilangan makna, tapi juga memastikan bahwa siswa kita siap menghadapi tantangan zaman. Mari kita jadikan pendidikan sebagai jembatan menuju kejayaan bangsa, di mana setiap guru menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. 

Daftar Link YouTube II edupedia.id

MODERASI KURIKULUM : JALAN STRATEGIS UNTUK MENYIAPKAN GENERASI EMAS 2045

  Indonesia tengah menatap visi besar menuju Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita untuk menjadi negara maju secara ekonomi, sosial, dan bud...